We have 6 guests online

Welcome to Our Community Web Portal...       KPBWM (Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar) webs' in English Translation.         Join with us on Facebook

Home Opini Membangun Mimpi Pengembangan Pariwisata Di Sulawesi Barat

Membangun Mimpi Pengembangan Pariwisata Di Sulawesi Barat Print
Written by Muhammad Putra Ardiansyah   
Wednesday, 24 December 2014 10:55 | Hits : 2612 views

Sebenarnya banyak spot wisata bahari yang bisa disulap menjadi seperti gambar dibawah ini. Mungkin salah satu yang mempengaruhi ketidaktertarikan wisatawan untuk berkunjung ke Sulawesi Barat adalah tidak adanya fasilitas dan sesuatu yang unik untuk dijadikan tempat berwisata. Tidak cukup hanya mengandalkan panorama pantai yang indah, tetapi lebih kepada fasilitas-fasilitas apa saja yang bisa membuat kita lebih nyaman untuk menikmatinya.

ilustrais pengembangan destinasi wisata bahari sulawesi barat
Ilustrasi pengembangan wisata bahari di Sulawesi Barat (Foto : Anonim)

Untuk studi kasus seperti Pantai Palippis, seorang surveyor asal Pangkep mengatakan bahwa Pantai Palippis tidak cocok dijadikan destinasi wisata bahari karena kurangnya objek wisata alamn, wisata bahari sebaiknya memiliki terumbu karang, tempat memancing, aspek budaya, dan kuliner. Namun jika dilihat secara lebih dalam alam bawah laut Palippis masih punya potensi yang bisa diangkat, walaupun koralnya telah banyak yang rusak, dan tak seindah koral yang terdapat di lepas pantai Pangali-Ali Majene.

Lalu apakah hanya Pantai Palippis yang punya potensi untuk dikembangkan di Sulawesi Barat? bukan hanya itu, pulau-pulau kecil seperti Pulau Karampuang di kab. Mamuju dan Pulau Gusung Toraja (P. Pasir Putih) di kab. Polman juga merupakan spot yg menarik untuk dikembangkan, dan masih banyak potensi-potensi yang lain.

Masalah yang ditemukan saat ini adalah persoalan akses seperti jalan menuju objek wisata, jalan lintas provinsi yang mulus, serta sarana dan fasilitas untuk para wisatawan yang hendak berkunjung. Pendekatan yang dapat dilakukan kemudian adalah memaksimalkan peranan pemerintah yg paling tepat mengelola, karena pihak pemegang kebijakan akan lebih mudah jika ingin sungguh-sungguh membangun. Masalah akses jalan menuju objek wisata dapat ditangani oleh lembaga-lembaga yang lain,  misalnya oleh dinas Perhubungan. "Membangun tempat wisata itu tidak cukup hanya dinas Pariwisata yang mengelola, tetapi harus bersinergi dengan banyak sektor terkaitl" *saya mengutip kata-kata dari Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Pangkep, Drs Ahmad Djamaan M.Si.

Hingga saat ini tampaknya  di Sulbar belum ada fasilitas objek wisata yang dibangun atas gerakan pemerintah , semuanya dimiliki oleh pihak swasta (swadaya). Seperti misalnya Ekowisata Mangrove yang terdapat di kec. Kalukku, kab. Mamuju, saat ini telah dibuka dan dikunjungi oleh wisatawan domestik dengan fasilitas sangat sederhana yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat. Untuk soal saran dan fasilitas masih jauh dari kata layak, namun untuk soal pemandangan dan view maka ekowisata ini tidak kalah. Contoh lain juga adalah rumah makan Dapur Mandar di kec. Pamboang, rumah makan yang mengandalkan jualan pesisir Pantai Pamboang, kab. Majene ini juga dikelola oleh pihak swasta (pribadi/ perseorangan),contoh berikutnya  ada kawasan pemancingan Rawa Bangun yang terletak di kec. Binuang kab. Polman juga dibangun atas inisiatif pihak swasta.

ekowisata mangrove kalukku mamuju

Ekowisata mangrove (bakau) di kec. Kalukku, kab. Mamuju (Foto : Zulkifli Zain)

rumah makan dapur mandar majene
Rumah makan Dapur Mandar di kec. Pamboang, kab. Majene yang dikelola secara perseorangan  (Foto : Fahmira Ahmad)

Sebaiknya pemerintah memiliki satu program tersendiri untuk pengembangan wisata yang dikelola secara penuh dengan melibatkan pihak dinas terkait, program ini bisa mencontoh pada apa yang dikembangakn oleh Pemkab Pangkep di Pulau Camba-Cambang yang belum lama ini saya kunjungi. Ada kolaborasi dan sinergitas yang dapat dilihat dengan jelas dalam destinasi wisata bahari, semua elemen terlibat mulai dari dinas kehutanan, dinas kesehatan, dinas lingkungan hidup, dinas perhubungan, dinas kelautan dan perikanan, serta dinas pariwisata sendiri sebagai pengelola dan manajer, tentu saja dengan dukungan penuh dari kepala daerah, pemegang kuasa dan penentu kebijakan untuk wilayah daerah tingkat II.


Penulis :

muhammad putra ardiansyahMuhammad Putra Ardiansyah, saat ini menetap di Makassar, Sulawesi Selatan, hobi travelling, fotografi, dan dunia bisnis. Alumni SMK Neg 1 Polewali yang saat ini menempuh pendidikan di Universitas Muslim Indonesia Makassar.

Kontak Saya :


 

Add comment

Jawab :

Login





Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar (KOMPA DANSA MANDAR) in English Translation
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Picasa Album || Youtube Channel
Design - Copyright © 2013-2018