We have 7 guests online

Frontpage Slideshow (version 2.0.0) - Copyright © 2006-2008 by JoomlaWorks
Welcome to Our Community Web Portal...       KPBWM (Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar) webs' in English Translation.         Join with us on Facebook

Home Sejarah Sekilas Mengenai Caloq Ammana I Wewang, Maraqdia Malolo Balanipa Penentang Belanda

Sekilas Mengenai Caloq Ammana I Wewang, Maraqdia Malolo Balanipa Penentang Belanda Print
Written by Administrator   
Tuesday, 07 January 2014 07:09 | Hits : 659 views

Calo Ammana I Wewang, melihat dari postur yang ada dalam foto dalam tulisan ini nyaris tidak terbayangkan bahwa ia pernah mengobrak-abrik tangsi militer Belanda di kabupaten Majene, ia salah satu panglima perang "maraqdia malolo" kerajaan Balanipa yang paling antipati pada penguasaan Belanda.

Perawakannya yang terlihat sedang,
tidak pendek tidak pula tinggi tampak jelas dalam foto ini. Adapun detail foto ini diambil pada saat ia sudah berada di Mandar setelah kurang lebih 37 tahun dibuang dan diasingkan oleh pihak belanda ke Pulau Belitung. Sebelumnya ia mengangkat senjata dan mencoba teknik konfrontasi dengan penjajah. Setelah menolak teknik diplomasi yang ditawarkan oleh pihak Belanda. Seirama dengan Arajang pada masanya "Tokape" ia juga menempuh teknik perang gerilya, tidak menetap dan lebih mengutamakan mobilitas untuk melakukan penyerangan secara sporadis, mulai dari penyerangan tangsi militer Belanda di Majene dan beragam pemberontakan lainnya yang ia susun bersama tokoh penentang semasanya yaitu Kacoq Puang Ammana Pattolawali, yang masih saudara kandungnya. Namun kemudian usaha perlawanannya harus terhenti setelah ia tertangkap oleh Belanda pada tahun 1907. Ia diadili di Campalagian, ditahan di Makassar, dipindahkan ke Batavia (Jakarta) dan lalu kemudian disingkirkan jauh dari kampung halamannya hingga ke Pulau Belitung pada 1 November 1907.

ammana i wewang

Calo Ammana I Wewang dalam kostum adat mengenakan sokkoq biring

Siapa Sebenarnya Ammana I Wewang

Ammana I Wewang dilahirkan dengan nama I Calo, tepatnya di daerah Lutang (Kel. Tande, Kec. Banggae, Kab. Majene) pada tahun 1854. Ia anak dari pasangan ayah ibu (I Gaqang dan I Kenna), I Gaqang adalah maraqdia "Raja"  kerajaan Alu, salah satu kerajaan lokal yang ada di wilayah Mandar. Sementara ibunya adalah I Kena seorang putri dari Maraqdia "Raja" Banggae. Kakek dari pihak ayahnya adalah Maqdusila "Lippo Ulang" seorang maraqdia "raja" di Pamboang, dan kakek dari pihak ibunya adalah "To Cabang" juga seorang maraqdia atau raja di Pamboang. (Alimuddin, 2011)

Ia populer dengan sebutan Ammana I Wewang, nama ini diambil dari seorang kemenakan permaisurinya yang bernama "Wewang". Nama yang banyak digunakan di tanah Mandar untuk tidak menyebut nama asli si bangsawan. Merunut dari keturunannya maka ia kental dengan darah bangsawan, penggabungan dua darah dari kerajaan Alu dan kerajaan Banggae. Kerajaan Alu sendiri dikenal sebagai kerajaan yang telah lama berjaya di daerah Mandar, (saat ini masuk dalam administrasi wilayah desa Allu, kecamatan Alu Kabupaten Polewali Mandar, berlokasi sekitar 10-15 km dari kec. Tinambung)  sementara kerajaan Banggae adalah satu dari tujuh kerajaan dalam konfederasi kerajaan "Pitu Baqbana Binanga".

Ammana Wewang memiliki tiga saudara yaitu Kacoq Puang Ammana I Pattolawali, Cacaqna Pattolawali, dan Cacaqna I Sumakuyu. Di usianya yang ke-30 ia didaulat menjabat posisi panglima perang "maraqdia malolo" di kerajaan Balanipa dan menggantikan posisi I Tamanganro. Ia masuk dalam jajaran posisi penting bersama arajang Balanipa yang masa itu dijabat oleh "Tokape". Tepatnya pada tahun 1886 ia diangkat menjadi maraqdia "raja" di kerajaan Alu, hingga pada masa itu ia merangkap jabatan dengan dua posisi, yaitu sebagai panglima perang di kerajaan Balanipa dan sebagai raja di kerajaan Alu. (Alimuddin, 2011)

Sebagai seorang maraqdia malolo atau panglma perang di kerajaan Balanipa maka Ammana Wewang secara struktural membawahi beberapa kelasykaran. Ia bertanggung jawab langsung kepada Arajang pada masa itu "Tokape". Angkatan Perang Balanipa dinamai Joaq dan terbagi atas (empat) bagian, yaitu :

  1. Joaq Matoa(Pasukan Pengawal Raja),
  2. Joaq Passinapang(Pasukan bersenjatakan senapan),
  3. Joaq Pakkabusu
  4. Joaq Paqburasang(bersenjatakan sumpitan)

Tiap bagian kelasyakaran atau joaq ini dipimpin oleh seorang "Annangguru" yang dibantu oleh Sariang, Tomawuweng dan keqde, tiap Annangguru bertanggung jawab pada maraqdia malolo.

Referensi :
  1. Alimuddin M. R. (2011). Si Jelek, Intrik, dan Perlawanan ke Belanda. Available at : http://sejarah.kompasiana.com/2011/04/28/%E2%80%9Csi-jelek%E2%80%9D-intrik-dan-perlawanan-ke-belanda-358865.html (diakses 07 Januari 2014)
 

Add comment

Jawab :

Login





Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar (KOMPA DANSA MANDAR) in English Translation
Desktop Version || Mobile Version || Feeds || Picasa Album || Youtube Channel
Design - Copyright © 2013-2017